Sang Visioner yg Mengubah Rumah dan Hartanya Menjadi Sekolah

14 July 2026
15:45 WIB
81 views
Thumbnail Sang Visioner yg Mengubah Rumah dan Hartanya Menjadi Sekolah

Gambar utama berita

*Oleh: Arief Ibnu Halim*

Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk membangun rumah mewah, memperluas tanah, dan menumpuk harta demi kenyamanan keluarga, hadir sosok yg berbeda jalan. Beliau tidak menakar kebahagiaan dari banyaknya kamar di rumah, atau tingginya pagar yg mengelilingi harta benda. Beliau justru mengukur hidup dari sejauh mana bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Sosok itu bernama *Azis Subekti* Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat istirahat, tempat menutup pintu dari hiruk pikuk dunia luar. Tetapi bagi beliau, rumah adalah jalan perjuangan. Dengan kesadaran penuh menjadikan rumahnya sebagai sekolah. Ruang tamu yg semestinya dipenuhi sofa, beliau ubah menjadi kelas belajar. Pekarangan yg biasanya untuk bersantai, beliau sulap menjadi tempat anak-anak bermain sambil belajar.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

Beliaui percaya bahwa pendidikan adalah kunci perubahan masyarakat. Baginya, satu anak yg bisa membaca lebih berharga daripada seratus kursi mahal. Satu anak yg mengerti adab dan akhlak mulia lebih berharga daripada perhiasan emas yg tersimpan di lemari. Beliau melihat dengan tajam bahwa masa depan bangsa tidak dibangun dari kemewahan, melainkan dari kecerdasan dan keimanan generasi mudanya.

Apa arti harta bila hanya menjadi simpanan? Apa artinya rumah megah bila hanya jadi kebanggaan kosong? Pertanyaan-pertanyaan ini yg membentuk cara pandangnya. Beliau sadar, semua yg dimiliki hanyalah titipan Allah. Maka beliau tidak ingin sekadar menjadi “penjaga” harta, tetapi “pengelola” harta yg bermanfaat untuk umat.

Dengan tekad itu, beliau menyerahkan hartanya untuk pendidikan. Langkah ini membuat sebagian orang terheran-heran. Tidak sedikit yg berbisik: “Mengapa harta sebesar itu dipakai untuk orang lain, bukan untuk anak cucu?” Namun beliau memiliki visi yg melampaui pandangan sempit itu. Beliau yakin, ilmu adalah warisan sejati. Anak-anak yg belajar di sekolah itu adalah anak-anak bangsa, dan merekalah sesungguhnya anak-anaknya juga, anak-anak peradaban.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

Jalan yg ditempuh beliau tentu tidak mulus. Ada yg mencibir, ada yg meragukan, bahkan ada yg menentang. Namun, beliau tetap berdiri teguh. Baginya, perjuangan tidak diukur dari seberapa besar tepuk tangan yg diterima, tetapi dari seberapa kuat beliau mampu memegang prinsip kebaikan.

Beliau tahu bahwa langkahnya akan menginspirasi banyak orang. Beliau sadar, generasi setelahnya membutuhkan bukti, bukan sekedar kata-kata. Maka beliau menjadikan dirinya teladan hidup, menunjukkan bahwa membangun sekolah bukan tugas pemerintah semata, tetapi tanggung jawab moral setiap orang yg punya hati dan kemampuan.

Hari demi hari, anak-anak datang berbondong-bondong ke sekolah yg lahir dari rumahnya. Di sana mereka belajar membaca, menulis, memahami agama, dan mengasah akhlak. Suara tawa mereka menjadi musik kehidupan. Doa-doa mereka menjadi energi yg tak ternilai.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

Di situlah warisan beliau menemukan bentuknya. Bukan dalam bentuk sertifikat tanah, bukan dalam tumpukan tabungan, melainkan dalam wajah-wajah ceria anak-anak yang haus ilmu. Inilah amal jariyah yg terus mengalir, bahkan setelah beliau tiada. Setiap huruf yg terbaca, setiap doa yang terucap, setiap langkah keberhasilan para muridnya, semua menjadi catatan amal kebaikan yg tidak pernah terputus.

Kisah beliau adalah teguran sekaligus teladan. Teguran bagi mereka yg hanya sibuk dengan dirinya sendiri, dan teladan bagi mereka yg ingin hidupnya bermakna. Beliau mengingatkan bahwa harta bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan. Bahwa rumah bukan hanya tempat tidur, tetapi bisa menjadi tempat lahirnya peradaban.

Apa yang dilakukan beliau adalah bukti nyata dari hadits Rasulullah: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yg bermanfaat, atau anak saleh yg mendoakannya.” Beliau memilih dua sekaligus: sedekah jariyah berupa sekolah, dan ilmu yg bermanfaat melalui pendidikan.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

Dalam hidup, kita semua dihadapkan pada pilihan: menjadi pengumpul harta, atau menjadi penyebar manfaat. Beliau menunjukkan jalannya, jalan visioner yg tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi memikirkan generasi yg akan datang.

Rumahnya telah menjadi sekolah. Hartanya telah menjadi cahaya. Namanya telah menjadi teladan. Dan amalnya akan terus hidup, selama ada anak-anak yg belajar, selama ada ilmu yg diwariskan, selama ada doa yang dipanjatkan.

81 views

Terakhir diperbarui

20 July 2026 19:16